18/11/22 - Day 5 P5



Bacaan Halaman 56-73 (4 bab/18 hal) 

Sebagai seorang ibu sudah seharusnya kewajiban untuk merawat anaknya. Tetapi bagaimana dengan ibu yang adalah seorang pecandu obat obatan? Bagaimana kamu memaafkannya ketika dia meninggal mendadak dan meninggalkanmu sendiri? Seperti penyintas bencana anak dari ibu akan menjalani terantuk antuk tiap harinya dengan mata membelalak melewati reruntuhan gempa bumi yang telah ditinggalkan oleh ibu tersebut. Akan ada begitu banyak kemarahan dalam anak dari ibu tersebut ia akan bertanya tanya bagaimana saat punya anak nanti dan  mencintai seorang anak ketika dia sendiri tidak pernah dicintai ibunya. Anak yang ditinggal ibu tersebut merasakan kesepian dan kepedihan yang luar biasa. Tentu saja ia tidak pernah akan memperlakukan anaknya seperti ibunya memperlakukan dia. Ia memastikan anaknya memiliki kehidupan yang tidak kumiliki atau mengulang kehidupanku, kehidupan yang penuh cinta, perhatian, dan pengertian. Untuk menciptakan kebahagiaan bagi anaknya, ia harus memaafkan ibunya sendiri, melepaskan luka dan beban yang telah ditinggalkan dalam hidupnya. Agar tempat kebencian itu digantikan oleh cinta.

Setiap isakan adalah pelepasan luka dan kebencian yang telah dibawa bawa sepanjang hidup. Di bawah kebencian meletak kepedihan. Di bawah kepedihan meletak ketakutan. Dengan menangis dan mengutarakan perasaan yang telah dipendam selama ini, terlepaskan semuanya sampai terasa sesuatu yang bergeser dalam diri. Tiba tiba terasa lebih ringan. Bersyukurlah atas apa yang kau dapatkan dari orang tua mu dari pemberian Tuhan karena belum tentu orang tua mu mendapatkan itu di masa kecilnya. Mereka bekerja keras dan telah melakukan yang terbaik. Terkadang sudut pandang kita terhadap orang ada yang membuat kita kecewa atau membencinya karena sesuatu yang ia lakukan. Tetapi ketika kita mendengar seseorang membicarakan selalu tentang sisi positif org yang kita benci hingga pencapaiannya, sikap kita bisa berubah disaat kita memahami orang yang kita benci melalui mata seseorang ini yang penuh kasih. Tidak pernah menghakimi, hanya berusaha memahami sudut pandang dari orang yang kita benci. 

Marilah saling memaafkan— hanya dengan begitu kita akan hidup dalam damai.

Refleksi: Cara untuk mengakhiri kepedihan adalah hanya membiarkan rasa memaafkan mengambil alih tempatnya.

Ketika kau belum memaafkan mereka yang pernah melukaimu, kau memunggungi masa depanmu. Ketika kau memaafkan, kau mulai berjalan maju.


Popular Posts