10/12/22 - Day 27 P5

 


Bacaan halaman 374-388 (15 halaman)

Maafkan semua yang pernah menyinggungmu, bukan demi mereka, tetapi demi dirimu sendiri. 

"Kau tidak bisa membiarkan ini menghancurkan seluruh hidupmu. Kau perlu melepaskannya."

Aku telah melihat orang-orang yang menolak untuk memaafkan. Mereka bergelantung pada kebencian golah-olah ia adalah sahabatnya. Kepahitan menyusup, dan seperti luka yang membusuk, menghancurkan hati dari dalam ke arah luar, mencemari semua relasi mereka. Kita tidak menginginkan itu sebagai kisah kita.

Apakah aku akan memperbolehkan peristiwa yang mengerikan ini membuat pahit seluruh pandangan hidupku atau apakah aku mau memaafkan? Sudah jelas bahwa satu- satunya cara untuk memulihkan hatiku sendiri adalah meletakkan kemarahanku. Tetapi bagaimana aku bisa memaafkan? Aku sadar bahwa doa adalah kunci bagi kebebasanku.

Kita harus menerima kenyataan bahwa aku tidak memiliki kendali atas orang lain, tetapi kita selalu mempunyai pilihan untuk memaafkan. Selama setahun aku menggantikan setiap pikiran marah dengan doa syukur kepada Tuhan untuk begitu banyak berkatnya.

Untuk memelihara pikiran kemarahan, kepahitan, dendam, perasaan bersalah, dan perasaan malu, kita harus menggunakan banyak sekali energi. 

"Mungkin saja memaafkan mendorong pelaku kejahatan untuk memulai hidup yang baru. Tetapi orang yang benar-benar berubah ketika Anda memaafkan seseorang adalah diri Anda sendiri."

"Aku tahu seberapa banyak kemarahan yang telah bersarang di hatiku" Cara untuk meredakan dan melepaskannya adalah tulislah di kertas bagaimana perasaan mu, kejadiannya dan yang ada di pikiranmu terus menerus termasuk pertanyaan-pertanyaan yang tidak ada jawabannya untuk melepaskan beban dari masalah tuanglah pikiran kalian ke kertas. Jangan biarkan kejadian peristiwa itu menggerogoti jiwamu.

"Mungkin saja memaafkan mendorong pelaku kejahatan untuk memulai hidup yang baru. Tetapi orang yang benar-benar berubah ketika Anda memaafkan seseorang adalah diri Anda sendiri."

Tidak bisa melupakan peristiwa itu, harus mendapatkan awal yang baru agar pada harapan untuk melanjutkan hidup tanpa mimpi buruk yang terus-menerus menyertainya.

Ketika kita bertemu atau akan bertemu orang yang sudah menyakiti hati kita atau yang terlibat dalam peristiwa buruk hidup kita. Apakah akan membawa kenangan buruk kembali? Apakah akan membuka kenangan lama yang sudah dikunci dikubur dalam dalam? Apakah melihatnya kembali akan mendatangkan penyelesaian atau malah membuka luka lama? Apakah kita akan menyesal kembali dan berpikir 'seandainya, kalau saja, jika begini'? Tidak bertemu mereka adalah proses penyembuhan dari diri kita dan mengetest jiwa kita. Kita harus kuat dan melawan perasaan dan pikiran tersebut. Perjuangkan perasaan dan pikiran yang sudah kau perjuangkan sekarang jangan ciut atau mundur, kita sudah merelakan dan melepaskan kejadian atau orang itu. Dan memaafkannya.

Memaafkan. Itu adalah hadiah paling berharga untuk diberikan kepada diri kita sendiri.

Refleksi: Tidak ada yang bisa mengubah apa yang telah terjadi. Tetapi dengan memilih untuk memaafkan, bisa memadamkan peran sebagai korban. Tidak berkubang di dalam peristiwa itu lagi dan tidak mengurung diri kita disitu atau terlarut. Karena pada akhirnya kita harus bisa melepaskan, masa lalu tidak lagi berkuasa atas masa kini.




Popular Posts