11/12/22 - Day 28 P5



Bacaan halaman 389-400

Keberanian tidaklah selalu menjulang dengan gagah. Terkadang keberanian adalah suara kecil di penghujung hari yang mengatakan: besok aku akan mencoba lagi.

Memaafkan adalah pengalaman kedamaian di saat kini. Memaafkan tidak mengubah masa lalu, tetapi mengubah masa kini.

Seharusnya semboyan kita bukanlah memaafkan; tetapi saling mengerti.

Memulai perjalanan mendaki bukit curam memafkan. Kemajuan tidak dapat dicapai jika seseorang rantai kemarahan dan kebencian.

Langkah pertama adalah merenungkan doa yang selalu diulang pada hari Minggu, doa Bapa Kami: "Ampuni kesalahan kami seperĂș kami pun memaafkan yang bersalah kepada kami." 

Saar berjalan kaki setiap hari, Memang terasa berat dengan dilema ini dan berkata kepada Tuhan bahwa aku tidak siap. Dengan bijak, Tuhan tidak menjawab. Kita bisa memaafkan secara bertahap, atau melatih memaafkan dalam persentasi. Aku mulai berkata kepada Tuhan. "Tuhan, aku bisa memaafkannya sepuluh persen." Setiap hari aku mengulang mantra ini.

Tetapi sebenarnya sampai titik 100 persen pun kita tidak bisa menerima permintaan maaf itu. Kita mengerti rencana Tuhan. 

Kutipan Alkitab muncul di benak: "SabdaMu adalah cahaya bagi kakiku, dan menerangi jalanku." Kedamaian tiba secara bertahap. Kita hanya menyediakan matematikanya. Melalui latihan pengampunan, Tuhan menjadi gurunya.

Benak kita biasanya memilih untuk menutup apa yang telah terjadi. Tetapi aku sungguh percaya bahwa benak tersebut melindungiku, mengunci semua kenangan itu jauh di kedalaman sampai aku sudah mencapai tingkat kematangan emosional tertentu di mana aku bisa menghadapinya dengan lebih baik. Kita harus melepaskannya. Dan memulai melangkah hidup kita melanjutkan hidup kita yang lebih baik.

Pada akhirnya kita harus belajar mencintai diri sendiri, dan dengan melakukannya, kita tiba pada kesadaran bahwa harus melepaskan semua kemarahan dan kebencian pada mereka selama ini.

Ketika kita menjadi orang tua kota harus mengajarkan dia dan bicara tentang sentuhan yang baik dan buruk, dan apa yang harus dilakukan jika seseorang, terlepas dari siapa pun dia, menyentuhnya dengan tidak pantas. Dan juga mengajarkannya apa yang tidak boleh dipegang kita dlm tubuh orang yang walaupun sudah dekat seperti teman, memegang tubuh orang dengan sembarangan.

Refleksi: Memaafkannya tidaklah berarti aku lupa. Kalimat klise itu hanyalah dusta. Begitu kenangan ditanam di otak, kita tidak dapat menghapusnya betapapun kerasnya kita mencoba. dan dengan berjalannya waktu, aku sadar bahwa pengalaman hiduplah, dan bukan usia, yang mendatangkan kematangan dalam diri kita.



Popular Posts