14/12/22 - Day 31 P5
Bacaan halaman 431-440
Hanya sesudah kita belajar memaafkan diri sendirilah kita bisa menerima orang lain sebagaimana adanya karena kita tidak merasa terancam oleh apa pun dari diri mereka yang lebih baik daripada kita.
Memaafkan telah membebaskan kitadari kemarahan di dalam benak. Dan di dalam prosesnya, kita juga menjadi tahu bahwa kami semua telah menjadi orang yang berbeda. Kita tidak merasakan kebutuhan atau hasrat untuk membina kembali relasi dengan mereka, dan kita bisa berdamai dengan itu.
Yang akhirnya aku mengerti adalah aku dan mereka masing-masing membawa penyesalan dan luka dari periode saat itu. Aku juga mengerti bahwa kita perlu bertanggung jawab untuk beberapa hal dan tidak mencari cara untuk menyalahkan orang lain. Dengan menemukan tempat di mana aku bisa memaafkan, aku mulai melihat bahwa aku memiliki tuntutan yang tidak realistis dan aku juga turut berperan pada apa yang telah terjadi. Aku juga melihat bahwa dengan menyalahkan orang lain, aku mengurangi daya pribadi kita karena dengan menyalahkan, kita menyatakan bahwa hidup kita tidak berada dalam kendali kita sendiri. Dengan menyalahkan orang lain, kita membiarkan mereka memiliki kendali atas diri kita.
Memaafkan teman-teman lama bukanlah soal mengalah atau menyerah atau berkompromi, tetapi soal bertumbuh dan mengambil tanggung jawab untuk hidup kita sendiri. Dengan memaafkan, aku membuat pernyataan bahwa aku cukup berdaya untuk hidup sendiri, tanpa menyalahkan orang lain sebagai tongkat penyangga ketika segalanya sedang tidak beres.
Tidak seharusnya menyalahkan diri untuk keadaan diri kita. Kita tahu bahwa pada akhirnya perlu membebaskan diri. Pertama-tama, Memaafkan diri kita karena telah memperlakukan diri dengan negatif. Lalu mengakui dan memuji diri untuk semua perang yang telah kita lewati dan jalani, dan hal-hal baik yang telah kita capai.
Refleksi:
Memaafkan adalah bentuk cinta yang tertinggi dan terindah. Sebagai balasannya, kita akan menerima kedamaian dan kebahagiaan yang tak terkatakan.



