26/11/22 - Day 13 P5
Bacaan halaman 175-187 (3 bab /13 halaman)
Saya terkesan dan yang menempel di benak saya dari kisah ini, adalah sesuatu yang bermakna dan menambah wawasan saya
1. "Tidak memaafkan adalah memberi kendali atas dirimu, perasaan-perasaanmu, dan tindakanmu kepada si jahat..."
2. "Memendam dendam sama sekali tidak akan memengaruhi si pelaku kejahatan. Kita-lah, pihak yang terluka-lah, yang akan paling terdampak."
3. "Memaafkan tidak ada hubungannya dengan siapa yang benar atau siapa yang salah, siapa yang melakukan in atau siapa yang melakukan itu, atau siapa yang memulai terlebih dulu. Memaafkan adalah pilihan yang Anda buat, membolehkan Tuhan untuk menanganinya. Keenam. Memaafkan membebaska orang yang memaafkan."
4. "Memaafkan tidak berarti Anda melupakan, ada pelajaran-pelajaran yang harus dipelajari dan disimpan."
5. "Memaafkan tidak berarti Anda harus memelihara relasi dengan orang itu, tetapi Anda memercayai Tuhan untuk menciptakan relasi yang Dia inginkan."
Doa ini membuat saya terharu dari kisah yg saya baca
"Tuhan, sudah berapa kali Engkau mengampuniku? Peng- ampunanmu berkelanjutan dan tanpa pengecualian. Aku tidak pernah patut untuk diampuni, tetapi Engkau sering mengampuniku dengan begitu bebas. Aku ingin memaafkan dia, tetapi aku mem- butuhkan bantuan-Mu. Aku tidak ingin lebih lama lagi membawa beban kemarahan di hatiku. Tolong jangan biarkan aku memasuki lagi pusaran negatif dari ketidak-patuhan setelah Engkau me- nuntunku sejauh ini di dalam proses penyembuhan. Tolong aku untuk memaafkannya. Dan selingkuhannya. Aku memaafkan mereka berdua. Aku memaafkan."
Ada sebuah tes untuk memaafkan...
"Jika Anda bisa mendoakan berkat Tuhan bagi orang yang telah menyinggung atau menyakiti Anda, maka Anda sudah memadai dalam memaafkannya."
Mungkin kita tidak mengetahui bagaimana caranya memaafkan, dan mungkin kita tidak ingin memaafkan; tetapi kenyataan bahwa kita berkata bersedia memaafkan, itu sudah akan memulai proses penyembuhan.
"serahkan kemarahanmu kepada Tuhan," katanya.
Tetapi bagaimana caranya aku menyerahkan kemarahan yang kurasakan? Aku berhak untuk marah.
"Kau berhak untuk marah, tetapi apakah kau menginginkan konsekuensi dari membiarkan kemarahan melahapmu? Mungkin jika kau menyerahkan kemarahanmu, tidak ada lagi yang tersisa dari relasi itu. Mungkinkah itu sebabnya la mempertahankannya?"
Sekarang aku ngerti bahwa memaafkan bukanlah untuk orang lain yg menyakiti kita, tetapi untuk diri kita sendiri. Itu membebaskan kita untuk menjadi diri yg sepenuh-penuhnya dan untuk melanjutkan hidup terlepas dari kepedihan dan ketidakpastian yang dihadapi setiap hari.
Menahan pemberian maaf dan kepahitan bisa terasa seperti kematian bagi jiwa kita karena hanya itu yang tersisa untuk kita genggam di dalam suatu relasi. Kita membutuhkan sesuatu untuk tetap terhubung.
Tetapi, ketika kita menemukan keberanian untuk mengambil jalan yang lebih mulia dan memaafkan, kita membebaskan diri yang untuk mengembangkan jiwa yang lebih besar dan lebih utuh yg dapat menuntun orang lain ke keutuhan yang telah kita temukan.
Refleksi:
Saya belajar dari kisah hal hal buruk yg terjadi dalam cinta atau pasangan
"Kami berdua belajar memaafkan, untuk meninggalkan masa lalu di masa lalu, dan melangkah ke awal yang baru dengan penghargaan yang baru terhadap satu sama lain."
Cinta dapat mekar selamanya jika kita melerai badai.



