9/12/22 - Day 26 P5
Bacaan halaman 361-373
Sebagian besar dari kita membutuhkan waktu untuk mengolah kepedihan dan kehilangan. Kita dapat menemukan semua alasan untuk menunda memaafkan. Salah satu dari alasan ini adalah menunggu pelaku kejahatan untuk menyesal sebelum kita memaafkannya. Tetapi penundaan seperti ini hanya menghalangi kedamaian dan kebahagiaan yang bisa menjadi milik kita.
Sederhananya, untuk bisa tetap hidup, perlu memaafkan. Aku tidak ingin selalu di dalam selubung rajutan kemarahan, kebencian, dan dendam. Pemberian maaf membuka jalan bagi harapan, kegembiraan, dan cinta yang besar. Pemberian maaf tidak mengecilkan kejahatan atau dampaknya, tetapi setiap orang berhak mendapatkan kehidupan yang positif dan berfokus pada dirinya dan bukan pada kehancuran.
Pertemuan yang tidak diduga dengan orang tersebut adalah ujian bagi otentitas dari pemberian maaf kita. Memang sangatlah penting untuk menyadari kemurnian pemberian maaf kita.
"Aku percaya bahwa hidup kami memang ditakdirkan untuk berpapasan demi penyembuhan. Aku telah memaafkan, tetapi aku tidak akan pernah melupakan. Namun, aku akan terus menjalani kehidupan ini di dalam janji harapan dan kebahagiaan Tuhan."
Refleksi:
Semua tradisi agama besar pada dasarnya membawa pesan yang sama, yaitu cinta, belas kasih, dan pengampunan... yang terpenting adalah menjadikannya sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.



